Jumlah Muslim yang percaya bahwa semua
makhluk hidup muncul melalui evolusi tidaklah boleh diremehkan. Kesalahan
mereka berdasarkan pada kurangnya pengetahuan serta berbagai sudut pandang yang
keliru, khususnya yang terkait dengan berbagai masalah ilmu pengetahuan.
Kesalahan yang utama adalah gagasan bahwa evolusi adalah fakta ilmiah dan sudah
terbukti kebenarannya.
Orang seperti mereka tidak menyadari
bahwa ilmu pengetahuan telah mengikis habis tingkat kebenaran teori evolusi.
Baik di tingkat molekuler, atau pun dalam biologi dan paleontologi, penelitian
telah membuktikan ketidak-absahan pernyataan makhluk hidup muncul sebagai hasil
proses evolusi. Teori Darwin mampu bertahan, sekalipun bertentangan dengan
kenyataan ilmiah, hanya karena para evolusionis melakukan segala hal yang
mereka bisa, termasuk sengaja menyesatkan orang, agar teori itu tetap hidup.
Tulisan dan ceramah mereka dipenuhi istilah ilmiah yang tidak dimengerti orang
awam. Tetapi bila kata-kata mereka ditelaah, orang tidak dapat menemukan bukti
untuk mendukung teori mereka.
Pemeriksaan yang seksama atas karya
tulis terbitan kaum Darwinis telah jelas mengungkapkan kenyataan ini. Uraian mereka
hampir tidak pernah berdasarkan bukti ilmiah yang kukuh. Berbagai bidang
mendasar, tempat teori ini runtuh, dipulas dengan beberapa patah kata, dan
banyak uraian aneh ditulis tentang sejarah alam. Mereka tidak pernah memusatkan
perhatian pada pertanyaan-pertanyaan utama, misalnya bagaimana pertama kali
kehidupan timbul dari zat-zat yang tak-hidup, celah-celah lebar pada catatan
fosil, dan sistem pada makhluk hidup yang rumit. Mereka tidak melakukannya,
karena apa pun yang dapat mereka katakan atau tulis akan berlawanan dengan
tujuan mereka serta mengungkapkan kekosongan teori mereka.
Ketika Charles Darwin (1809-1882),
pendiri teori ini, menelaah salah satu sistem rumit yang terdapat pada makhluk
hidup, yakni mata, ia menyadari bahaya yang mengancam teorinya, dan ia bahkan
mengakui bahwa memikirkan mata membuat sekujur tubuhnya menggigil. Seperti
Darwin, para ilmuwan evolusionis masa kini tahu bahwa teori mereka tidak
memiliki penjelasan tentang sistem rumit serupa itu. Namun, bukannya mengakui
hal ini, mereka justru mencoba menutupi tiadanya bukti ilmiah, dengan cara
menulis berbagai uraian khayal serta mencekokkan teori ini kepada masyarakat
dengan memberinya sebuah topeng ilmiah.
Cara-cara ini tampak jelas dalam debat
tatap muka antara kaum evolusionis dengan mereka yang meyakini penciptaan,
maupun dalam tulisan dan film dokumenter evolusionis. Sebenarnya, kaum
evolusionis tidak peduli pada hal-hal seperti kebenaran ilmiah atau akal sehat,
karena sasaran tunggalnya adalah membuat orang yakin bahwa evolusi adalah
kenyataan ilmiah.
Dengan cara demikian, kaum Muslimin
pendukung evolusi termakan oleh citra teori ini yang katanya
"ilmiah". Khususnya, mereka tertusuk oleh semboyan Darwinis, seperti:
"Siapa pun yang tidak mempercayai teori evolusi artinya bersikap taklid
(meyakini sesuatu secara buta) atau tidak ilmiah," dan karena itu
memberikan ruang dalam keyakinan mereka yang sebenarnya. Karena terpengaruh
keterangan usang atau tulisan dan pendapat evolusionis, mereka percaya bahwa
hanya evolusi yang dapat menerangkan peristiwa munculnya kehidupan. Lalu mereka
mencoba menyelaraskan agama dan evolusi, karena tidak mengetahui perkembangan
ilmiah mutakhir maupun pertentangan dalam teori itu sendiri, serta tingkat
keyakinan terhadap kebenaran teori tersebut yang telah lenyap.
Akan tetapi, menimbang bahwa evolusi
bertentangan 180 derajat dengan penciptaan, membuktikan kebenaran yang satu
akan berarti menggugurkan yang lainnya. Dengan kata lain, menggugurkan evolusi
berarti membuktikan penciptaan.
Karena alasan-alasan ini, kaum
materialis memandang debat tentang evolusi sebagai sejenis medan perang,
semacam perang terbuka antar paham pemikiran, dan bukan sebagai masalah ilmiah.
Jadi, kaum materialis melakukan semua cara yang mungkin untuk menghalangi
mereka yang meyakini paham penciptaan.
Misalnya, evolusionis Lerry Flank
menyarankan agar kebenaran penciptaan dilawan dengan cara-cara berikut:
Para pengawas terhadap kaum kreasionis
harus ketat mengawasi susunan anggota dewan pendidikan negara bagian.
Sebaiknya, mereka yang berminat kepada pendidikan yang bermutu serta kepada
pencegahan langkah kaum fundamentalis yang hendak memakai sekolah negeri untuk
berkhotbah, menjadi mayoritas anggota dewan-dewan ini … Jika ini gagal, dan
buku-buku pelajaran berpaham kreasionis benar-benar dipakai dan disetujui, maka
tindakan hukum menjadi perlu diambil.
Jelaslah dari kata-kata ini bahwa kita
bukan sedang bicara tentang suatu debat ilmiah, melainkan tentang sebuah perang
gagasan, yang dicanangkan oleh kaum evolusionis dalam kerangka kerja siasat
tertentu.
Kaum Muslimin yang mempertahankan
evolusi harus menyadari hal ini. Darwinisme bukan sebuah pandangan ilmiah;
melainkan sebuah sistem berpikir yang dirancang untuk menggiring orang
mengingkari Allah. Karena teori ini tidak berlandasan ilmiah, seorang Muslim
tidak boleh membiarkan diri disesatkan oleh berbagai pendapat dalam teori ini,
dan lalu memberikan dukungan, setulus apa pun niatnya.
Sumber: Buku Harun Yahya. "Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur'an"
Categories:
islam-knowledge

