dakwatuna.com - Nanti kita akan dihadapkan pada satu masa untuk mengingat kembali,
Ohh si Paijo yang dulu ketua kelas itu? Udah jadi ajudan menteri?
Ohh si Budi yang dulu ketua geng kelas IPS itu? Udah jadi pedagang sukses?
Ohh si Fatimah yang dulu ketua ekskul marching band itu? Udah jadi ibu walikota?
Ohh si Aminah yang dulu kutu buku itu? Udah jadi peneliti dia rupanya.
Kadang
kita dihadapkan untuk mengingat masa lalu dan merangkainya ke masa
depan. Masa yang mungkin tiada bekas yang tertanam, namun ketika
menghubungkan lagi ke node-node sejarah, ia kembali muncul menjadi
kenangan. Mungkin dalam menapaki jalan-jalan usia yang tak lama, kita
dihadapkan pada fase senang, sedih, kalut atau bahkan sumringah, namun
sudah sesering apa kita libatkan Rabb dalam masalah kita?
Dulu,
mungkin kita masih terngiang-ngiang kala PR dari guru Fisika yang
jangankan halaman buku paket itu, pulpen pun rasanya berat tuk diangkat.
Namun aku teringat si Kodir, kalau ia lagi sakit kepala karena
transistor, gaya, gesekan, kinetik hingga hukum Newton, ia langsung
bergegas ke mushalla RT. 13, terkadang aku bertemu dengannya.. Hey PR
udah selesai? Dia berujar singkat,
Ini mau munajat dulu, agar diberi kemudahan ^^
Kadang
kita lupa menyertakan Rabb dalam aktivitas kita, kadang kita tidak
menyertakan Rabb dalam sederet prestasi kita atau kala kita sedang
menahan amarah, lidah yang ber-istighfar, langkah yang ber-wudhu sirna
sudah. Aku teringat sebuah ucapan dari seorang rekan,
Kalaulah mereka Islam, peran mereka mungkin sudah menjadi amal yang tidak putus-putus.
Pernahkah
kita sadari, bagaimana kalau Abdul Fattah merawat Steve Jobs dengan
benar? pernahkah kita sadari bagaimana kalau scientist-scientist itu
berislam, mungkin amal-amal dan berkah untuk mereka telah menumpuk kan?.
Begitu pula kehidupan di negeri Formosa ini, terdapat satu mushalla
yang disediakan oleh pemilik toko Indonesia, walaupun ia bukan Islam
namun mushalla itu terbuka untuk siapa saja, kini kita berpikir lagi,
apa kiranya balasan Rabb kalau ia berislam?, mungkin amal-amal kita yang
sedikit ini telah ia lewati dengan mudah kan?
Lalu aku berpikir sejenak, kala air wudhu sudah hampir mengering di mushalla itu,
Sudah sesering apa kita bersyukur dengan nikmat iman dan Islam ini?
Sudah
sepeka apa kita akan kenikmatan yang pagi membuka dan matahari mulai
malu-malu mengintip dari langit, kita masih sehat tiada kurang satu
apapun? Atau jangan-jangan kita telah lupa, bagaimana syukur itu
dihadirkan dalam keselarasan hidup, fase-fase yang bertumbuh dalam
hidup, fase-fase menuntut ilmu lalu terus menapaki jalan-jalan di depan
sana?
Atau kita lupa bahwa nikmat ber-Islam itu melebihi
kenikmatan harta si Qarun, menara Fir’aun kreasi Haman yang tak kunjung
sampai ke langit, Namrudz dan kuasa, Kisra dan keindahan kota Mada’in
serta prestise kabilah milik Abu Jahal?
Menapaki jalan setapak,
mungkin itu sebuah ilustrasi langkah demi langkah kecil, disertai dengan
syukur dan konsistensi kesyukuran yang tertanam.
Wallahua’lam.
K-Serial Mahabbatullah
Categories:
nutrisi jiwa
